u n me

u n me

Minggu, 14 November 2010

ANTIBIOTIK BASITRASIN


BASITRASIN
Berdasarkan kemampuan untuk membunuh kuman penyakit, antibiotic dikelompokkan menjadi dua yaitu :
1.       Bersifat bakterisid (dapat membunuh bakteri)
misalnya : penisilin, sefalosporin, streptomisin, neomisin, kanamisin, gentamisin dan basitrasin.
2.      Bersifat bakteriostatik (menghambat perkembangbiakan bakteri)
misalnya: sulfonamide, trimetropim, kloramfenikol, tetrasiklin, linkomisin dan klindamisin.









Gambar : Struktur dari Basitrasin

 
Basitrasin (bass i TRAY sin) merupakan gabungan polipeptida yang menghambat sintesis dinding sel bakteri. Obat ini aktif terhadap berbagai macam mikroorganisme gram positif. Penggunaannya dibatasi untuk penggunaan tropikal karena potensinya menimbulkan nefrotoksisistas, (FUB II, 2001)
Basitrasin adalah zat anti mikroba yang dihasilkan oleh biakan pilihan Bacillus Licheniformis atau Bacillus Subtillis Var.Tracy, (FI III, 1979)
Basitrasin adalah suatu polipeptida yang dihasilkan dari pertumbuhan organisme kelompok Licheniformis dari bacillus subtilis (Familia bacillaceae), (FI IV, 1995)

SEJARAH :
Antibiotik Basitrasin ini dihasilkan oleh strain tertentu B. sublitis dan bersifat bakteriosid terhadap kuman-kuman gram positif dan Neisseria. Basitrasin tidak aktif terhadap kuman gram negatif lainnya dan beberapa strain Staphylococcus. (FT V, 1995)
Obat ini sekarang hanya digunakan secaratopikal untuk berbagai infeksi kulit dan mata karena pada penederita sistemikbersifat nefrotoksik. Reaksi alergi jarang terjadi pada gangguan topikal. Salep mata yang mengandung basitrasin efektif untuk mencegah oftalmia neonatorum karena ponore (FT V, 1995)




MEKANISME :
Menghambat daur ulang pembawa (carrier) yang mengangkut prekusor dinding sel melintasi membran plasma.
Menghambat sintesis dinding sel bakteri dengan mencegah transfer mukopeptida ke dalam dinding sel.
Antibiotik yang merusak dinding sel mikroba dengan menghambat sintesis ensim atau inaktivasi ensim, sehingga menyebabkan hilangnya viabilitas dan sering menyebabkan sel lisis. Antibiotik ini meliputi penisilin, sepalosporin, sikloserin,  vankomisin, ristosetin dan basitrasin. Antibiotik ini menghambat sintesis dinding sel terutama dengan mengganggu sintesis peptidoglikan.
KEGUNAAN KLINIS :
Organisme gram positif yang menyebabkan infeksi mata dan kulit.

KOMBINASI :
Dipasarkan dalam kombinasi dengan polimiksin atau neomisin sebagai zat topikal.

EFEK SAMPING :

Nefrotoksisitas berat jika diberikan secara i.v. Hipotensi, edema wajah/bibir, rasa sesak pada dada, rasa tersengat, rash, anoreksia, mual, muntah, diare, diskrasias darah, diaforesis, blokade neuromuskular, pusing, ataksia, mengantuk, pandangan kabur.
Basitrasin aktif terhadap bakteri gram positif tetapi tidak terhadap gram negatif; antibiotik ini sangat beracun sehingga penggunaanya dibatasi sebagai obat luar saja.


INDIKASI :

 Infeksi bakteri pada kulit


KONTRAINDIKASI :
Hipersensitif terhadap basitrasin atau polimiksin B. Hindari penggunaan bersamaan dengan bloker neuromuskular.


INTERAKSI :
- Dengan Obat Lain : Menjadi tidak aktif dengan adanya logam berat dan garam. Akan berkurang secara lambat  aktifitasnya dalam basis berair, stearil alkohol, natrium lauril sulfat.
- Dengan Makanan : -
SEDIAAN :
basitrasin 500 IU/g + polimiksin B 10.000 IU/g; salep, tube 5g
Sediaan tersedia dalam bentuk salep basitrasin dan sebagai basitrasin zinc, mengandung 400 sampai 500 unit per gram.

CARA PAKAI :
Topikal (dioleskan pada kulit)

DOSIS :
Oleskan pada kulit, 1-4 kali sehari.

NAMA DAGANG YANG BEREDAR DIPASARAN :
1.      Basitrant
Sebagai obat tetes mata
2.      Enbatic
Sebagai serbuk tabur
3.      Liposin
Sebagai obat salep
4.      N b topical
Sebagai obat salep
5.      Nebacetin
Sebagai salep mata dan serbuk
6.      Neocitrin
Sebagai obat salep
7.      Tigalin
Sebagai obat salep
8.      Tracetin
Sebagai obat salep

STABILITAS PENYIMPANAN :
Disimpan dalam wadah tertutup rapat dan di tempat sejuk.




DAFTAR PUSTAKA

Ditjen POM, 1979, Farmakope Edisi III, Departemen Kesehatan Indonesia, Jakarta
Ditjen POM, 1995, Farmakope Edisi IV, Departemen Kesehatan Indonesia, Jakarta
Ganiswarna, 1995, Farmakologi Terapi Edisi V, UI, Jakarta.
ISFI, 2004, ISO Volume 39  Informasi Spesialite Obat Indonesia, PT.ISFI, Jakarta.
ISFI, 2009, ISO Volume 44 Informasi Spesialite Obat Indonesia, PT.ISFI, Jakarta.
Mycek, Mary, dkk, 2001, Farmakologi Ulasan Bergambar Edisi 2, Widya Medika, Jakarta.

Olson, James, 2004, Belajar Mudah Farmakologi, Buku Kedokteran, Jakarta.
Tjay hoan dan Kirana Rahardja, 2002, Obat-Obat Penting Khasiat, Penggunaan, dan Efek-efek sampingnya, PT.Elex Media Komputindo, Jakarta.

http: /A princess's story: KULIAH FARMAKOLOGI_blog.com//09:14_191010.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Mengenai Saya

Foto Saya
Makassar, Indonesia
tiga benda yg identik dengan z... baju lab__ tas ransel__ kaca mata__