u n me

u n me

Sabtu, 22 Januari 2011

AMOXICILIN

Sejarah
Pencarian antibiotik telah dimulai sejak penghujung abad ke-18 denga meningkatnya pemahaman teori kuman penyakit, suatu teori yang berhubungan dengan bakteri dan mikroba yang menyebabkan penyakit. Saat itu para ilmuwan mulai mencari obat yang dapat membunuh bakteri penyebab penyakit. Tujuan dari penelitian tersebut yaitu untuk menemukan apa yang disebut peluru ajaib, yaitu oabt yang dapat membidik/menghancurkan mikroba tanpa menimbulkan keracunan.
Salah satu penelusuran awal penelitian antibakteri adalah apakah bakteri yang tidak berbahaya (non-patogen) dapat mengobati penyakit yang disebabkan oleh bakteri enyebab penyakit (bakteri patogen). Pada tahun 1877 Louis Pasteur menunjukkan bahwa penyakit antrak pada hewan dapat dijinakkan dengan menyuntikkan cemara bakteri. Pada tahun yang sama, rudolf von Emmerich membuktikan bahwa dengan menyuntikkan steptokokus, dapat mencegah kolera pada hewan.
Pada tahun 1920, imuwan Inggris Alexander Fleming melaporkan bahwa suatu produk dalam air mata manusia dapat melisiskan (menghancurkan) sel bakteri. Zat ini disebut lysozyme, yang merupakan contoh pertama antibakteri yang ditemukan pada manusia. Namun usaha ini menemui jalan buntu karena sifatnya yang merusak sel-sel bakteri non-patogen.
Namun pada tahun 1928 Fleming menemukan antibakteri yang kemudian dinamai penicilin, dari cawan petri yang dia tinggalkan.ia menemukan bahwa koloni Staphylococcus aureus yang ia goreskan pada cawan petri tersebut telah lisis, akibat tumbuhnya jamur Penicillium notatum.
 Rumus struktur :




Mekanisme kerja
Seperti halnya antibiotic beta-laktam, penicillin pertumbuhan bakteri dengan jalan menghambat tahap spesifik dalam sintesis bakteri sel. Dinding sel ini merupakan lapisan luar yang kaku, dari yang menutupi keseluruhan membrane sitoplasma. Lapisan ini mepertahankan bentuk sel serta mencegah lisis sel yang mungkin trejadi sebgagai akibat dari tekanan osmotic
Farmakokinetik
Absorbsi penicillin G mudah rusak dalam suasana asam  (pH 2). Cairan lambung dengan pH 4 tidak terlalu merusak penicillin. Garam Na peniclin G yang diberikan oral. Diabsorbsi terutama di duodenum. Absrobsi di duodenum ini cukup cepat, tetapi hanya 1/3 bagian dosis oral diserap. Tidak Adanya makanan menghambat absosbsi, yang mungkin disebabkan absorbs peniclin pada makanan. Kadar maksimal dalam darah tercapai dalam 30-60 menit. Sisa 2/3 dari dosis oral diteruskan ke kolon. Disini terjadi pemecahan oleh bakteri dan hanya sebagian kecil obat yang keluar bersama tinja.
Bila dibandingkan dosis oral terhadap IM, maka untuk mendapatkan kadar efektif dalam darah, dosis penicillin G oral haruslah 4 samapai 5 kali lebih besar dari pada dosis IM. Oleh karena itu peniclin G tidak dianjrkan untuk diberikan oral.
Larutan garam Na-peniclin G 300000 UI (180 mg) yanhg disuntikkan IM, cepat sekali diabsorbsi dan menghasilkan kadar puncak dalam plasma setinggi 8 UI (4,8 ug/ml) dalam waktu 15 sampai 30 menit. Untuk memperlambat absrpsinya , peniclin G dapat diberikan dalam bentuk repository, umpamanya penicillin G benzatin, peniclin G prokain sebagai suspense dalam air atau minyak.
Peniclin tahan asam pada umumnya dapat mengahsilkan kadar obat yang dikehendaki dalam plasma dengan penyusuaian dosis oral yang tidak terlalu bercariasi, walaupun beberapa peniclin  oral diabsorbsi dalam proporsi yang cukup kecil. Adanya makanan akan menghambat absorbs, tetapi beberapa diantaranya dihambat sevara tidak bermakna. Penicillin V walaupun relative tahan asam, 30% mengalami pemecahan di saluran cerna bagian atas, sehingga tidak sempat diabsorbsi.
Absorbsi amoksisilin di sluran cernba lebih jauh dari pada ampicilin. Dengan dosis oral yang sama amoksisilin mencapai kadar dalam darah yang tingginya kira-kira 2 kali lebih tinggi daripada yang dicapai oleh ampicilin, sedang masa paruh eliminasi kedua obat ini hampir sama. Penyerapan ampicilin terhambat oleh adanya makanan di lambung, sedang amoksisilin tidak.
Distribusi peniclin G didistribusi luas dalam tubuh. Ikatan proteinnya adalah 65%. Kadar obat yang memaadai dapat tercapai dalam hati, empedu, ginajl, usus, limfe, dan semen, tetapi dalam CSS sukar dicapai. Bila menigen dalam keadaan normal, sukar sekali dicapai kadar 0,5UI/ml dalam CSS walaupun kadar plasmanya 50 UI/ml. adanya radang menigen lebih memudahkan penerasi peniclin G ke CSS tetaqpi tercapai tidaknya kadar efektif tetap sukar diramalkan. Pem,berian intratekal jarang dikerjakan karena risiko yang lebih tinggi dan efektivitasnya tidak lebih memuaskan.
Distribusi amoksisilin secara garis besar sama dengan ampicilin. Karbensilin pada umumnya memperlihatkan sifat distribusi yang sama dengan peniclin lainnnya ternmasuk distribusi ke dalam empedu dan dapat mencapai CSS pada meningitis.
Indikasi Terapi
a.       Anti biotic oral 5-10 hari
Beberapa anak-anak dapat sembuh dengan AB
Terapi pendukung, analgesic, antipiretik, penghambtan local.
Anhistamin dan dokengestan tidak efektif  untuk menggatasi efusi  dan menghuloangkan gejala
Pilihan pertama antibiotic, amoksisilin 40mg/kgbb/hari
b.      Aktivitas in vitro amoksisilin terhadapa S. pneumonia dan H. Influensa isolate dari telinga tengah sangat baik. Amoksisilin dosis tinggi 80-90 mg/kg/bb/hari untuk pneumomokokos yang resisten terhadap peniclin
c.       Bila gagal digunakan asam klavulanat dosis tinggi, seforuksim aksetil atau seftriakson im
d.      Bila H.Influensa/M.catarrahlis  penghasil betalaktamase umum didapati maka gunakan antibiotic yang tahan terhapa betalaktamase.
e.       Sulfametaklsasol –trimetrofin (ko-kotrimoksasol), sefiksim, sefuroksim axetil, sefaklor, sefprozil, sefdokdim, azitomizin, azitromisin, eritromicin/sulfisaksol.
Sediaan
Tersedia sebagai kapsul  atau tablet beruikuran 125,250,500 mg dan syrup 125/5 ml. dosis sehari dapat dinberikan lebih kecil daripada ampicilin, yaitu 3 kali 250-500 mg sehari.
Kombinasi
Kombinasi dengan kalium klavulanat
Amoksisilin tunggal in vitro aktif terhadap berbagai kuman aerobic dan anaerobic gram posotif dan gram negative bukan penghasil betalaktamase. Kombinasi amoksisilin dengan kalium klavulanat tidak meningkatkan aktivitas in vitro terhadap kuman yang sensitive tersebut, tetapi memperluas spectrum aktivitasnya terhadap kuman penghasil betalaktamase yang intrisik termasuk strain yang sensitive. Kombinasi ini tidak aktif terhadap S. aureus Yang resisiten terhadap metislin
Jika amoksisilin digabungkan dengan dikloksasilin, maka akan didapatkan suatu gabungan yang sinergik terhadap kuman-kuman penghasil penisilinase, yakni penisilinase dihambat oleh dikloksasilin, sehingga amoksisilin dapat bekerja dengan leluasa. Mekanisme kerja sinergis dari gabungan yang demikian ini disebabkan karena adanya hambatan bersaing dari komponen-komponen gabungan terhadap enzim penisilinase. Dalam hal ini dikloksasilin dan amoksisilin, yang sama-sama adalah senyawa ß-laktam, bersaing untuk mencapai tempat-tempat aktif enzim. Jika affinitas dikloksasilin terhadap enzim lebih besar daripada amoksisilin terhadap enzim, maka tempat-tempat aktif enzim diisi dengan molekul-molekul dikloksasilin yang tak dapat dipecah. Dan akan terbentuk kompleks enzim-penghambat, sehingga enzim terhambat untuk memecah amoksisilin . Dengan demikian amoksisilin dapat bekerja dengan leluasa
Dosis
a.       Orang dewasa 250-500 mg tiap 8 jam
1)      Infeksi saluran nafas berat /berulang 3 gram tiap 12 jam, anak-anak kurang dari 10 tahun 125-250 mg tiap 8 jam. Pada infeksi berat dapat diberikan dua kali atau lebih tinggi.
2)      Terapi oral jangka pendek. Abses gigi, 3 gram, diulang 8 jam kemudian
3)      Infeksi saluran kemih, 3 gram diulang steleah 10-12 jam.
4)      Genoro, 2-3 gram dosis tunggal, ditambah 1 gram probensid
5)      Otitits media pada anak 3-10 tahun, 750 mg dua kali sehari selama 2 hari
b.      Infeksi intramuscular: deawasa; 500 mg tiap 8 jam/, anak:50-100 mg/hari dalam dosis terbagi. Injeksi intravena atau infuse: 500 mg tiap 8 jam, dapat dinaikkan sampai 1 g tiap 6 jam. Anak-anak 50-100 mg/hari dalam dosis terbagi.
Sediaan yang beredar di pasaran
a.       Abamacx, kapsul 250 mg,500 mg, sirup kering 125mg/5 ml(K)
b.      Abdimox, kapsul 500 mg, serbuk injeksi 1g/vial
c.       Alphamox, kapsul 250,500 mg, sirup kering 125mg/5ml, 250mg/5 ml
d.      Amobiotic, drops 100mg/ml, kapsul 250 mg, 500 mg, serbuk injeksi 250 mg/vial, 500 mg/vial, sirup kering 125mg/5ml, 250 mg/5ml
e.       Amosine, kapsul 250 mg, 1 g servuk injeksi, 250 mg/vial, 1 g/vial, sirup kering 125 mg/5ml(K)
f.       Amoxil, drops 125 mg/1,25 ml, kaptab 250 mg/5ml
g.      Amoxilin pharos, 250mg,500mg, 1 gram sirup kering 125mg/5 ml250 mg/5 ml
h.      Amoxipen kapsul 250 mg, 500 mg, sirup kering 125mg/5ml
i.        Amoxasan, drops 125mg/1,25 ml, kapsul 250mg, 500 mg, serbuk injeksi 1g/vial, sirup kering 125mg/5 ml 250 mg/ 5 ml
j.        Arcmox, kapsul 250 mg, 500 mg, kaptab 250 mg,500mg, 1 g, sirup kering 125mg/5ml, 250mg/5 ml
Efek samping
Susunan Saraf Pusat : agitasi, ansietas, insomnia, konfusi, kejang, perubahan perilaku, pening.
Kulit : Acute exanthematous pustulosis, rash, erytema multiform, sindrom stevens-johnson, dermatitis, tixic ephidermal necrolisis, hypersensitif vasculitis, urticaria.
GI : Mual, muntah, diare, hemorrhagic colitis, pseudomembranous colitis, hilangnya warna gigi.
Hematologi : Anemia, anemia hemolitik, trombisitopenia, trombositopenia purpura, eosinophilia, leukopenia, agranulositosi.
Hepatic : AST (SGOT) dan ALT (SGPT) meningkat, cholestatic joundice, hepatic cholestatis, acute cytolitic hepatitis.

Sabtu, 15 Januari 2011

KLORAMFENIKOL


A.    Struktur kimia 






Kloramfenikol : C11H12Cl2N2O5

B.     Mekanisme kerja
KloramfeNikol  bekerja dengan menghambat sintesis protein kuman. Obat ini berikatan pada ribosom subunit 50s dan menghambat enzim peptidil tranferase sehingga ikatan peptide tidak terbentuk pada proses sintesis protein kuman.
C.    Farmakokinetik
Kloramfenikol dapat diberikan intravena maupun per-oral. Obat ini diabsorbsi secara lengkap pada pemberian per-oral karena sifat lipofiliknya dan didistribusikan secara meluas ke seluruh tubuh. Obat ini dapat masuk ke dalam OSS. Obat ini menghambat fungsi  penggabungan oksidase hepatic. Ekresinya tergantung pada perubahan obat ini dalam hati menjadi glukoronid yang kemudian diekskresi melalui tubulus ginjal. Hanya 10% dari obat ini yang dieksresikan melalui filtrasi glomelurus.
D.    Penggunaan dalam terapi
Obat ini digunakan untuk mengobati  demam tifoid dan meningitis oleh H.Influenzae.

1.      Demam tifoid
Untuk pengobatan demam tifoid ini dapat diberikan dosis 4 kali 500 mg sehari sampai 2 minggu bebas demam.Bila terjadi relaps, biasanya dapat diatasi dengan memberikan terapi ulang. Untuk anak diberikan 50-100 mg/KgBB sehari dibagi dalam beberapa dosis selama 10 hari.
Setelah infeksi terjadi akan muncul satu atau beberapa gejala berikut ini:
·         demam tinggi dari 39° sampai 40 °C (103° sampai 104 °F) yang meningkat secara perlahan
·         tubuh menggigil
·         denyut jantung lemah (bradycardia)
·         badan lemah ("weakness")
·         sakit kepala
·         nyeri otot myalgia
·         kehilangan nafsu makan
·         konstipasi
·         sakit perut
·         pada kasus tertentu muncul penyebaran vlek merah muda
2.      Meningitis Purulenta
Kloramfenikol efektif untuk mengobati meningitis purulenta yang disebabkan oleh H.Influenzae.Untuk terapi awal, obat ini masih digunakan bila obat-obat yang lebih aman seperti seftriakson tidak tersedia. Dianjurkan pemberian kloramfenikol bersama suntikan ampisilin sampai didapat hasil pemeriksaan kultur dan uji  kepekaan, setelah itu dianjurkan dengan pemberian obat tunggal yang sesuai dengan  hasil kultur.
3.      Riketosiosis
Tetrasiklin merupakan obat terpilih untuk penyakit ini. Namun karena sesuatu hal tidak dapat diberikan, maka dapat digunakan kloramfenikol.
E.     Sediaan
1.      Kapsul
2.      Suspensi
3.      Salep mata
4.      Obat tetes mata
5.      Salep kulit
6.      Obat tetes telinga
7.      Serbuk injeksi
F.     Dosis
1.      Kapsul                   : 250 mg dan 500 mg
Dewasa  50mg/KgBB sehari per oral dibagi dalam 3-4 dosis
2.      Suspensi                : 125 mg /5 mL
·   Bayi prematur, maksimal 25 mg/KgBB sehari per oral dibagi dalam 2 dosis
·   Bayi aterm berumus kurang dari 2  minggu , maksimal 25mg/KgBB sehari peroral dibagi dalam 4 dosis.
·   Bayi aterm berumur lebih dari 2 minggu, 50 mg/KgBB sehari peroral dibagi dalam 3-4 dosis
3.      Salep mata             : 1%
Dipakai beberapa kali sehari
4.      Obat tetes mata     : 0,5%
Dipakai beberapa kali sehari
5.      Salep kulit             : 2%
Dipakai beberapa kali sehari
6.      Obat tetes telinga  : 1-5%
Dipakai beberapa kali sehari
7.      Serbuk injeksi        : 1 g
Dewasa dan anak, 50 mg/KgBB sehari intravena  dibagi dalam 4 dosis
G.    Efek samping
1.      Reaksi Hematologik
Terdapat dalam dua bentuk. Yang pertama ialah reaksi toksik dengan manifestasi depresi sumsum tulang. Kelainan berhubungan dengan dosis, progresif dan pulih bila pengobatan dihentikan. Kelainan darah yang terlihat ialah anemia, retikulositopenia, peningkatan serum iron dan iron binding capacity seta vakuolisasi seri eritroit bentuk muda. Reaksi initerlihat bila kadar kloramfenikol dalam serum melampaui 25µg/mL
Bentuk yang kedua adalah anemia aplastik dengan pansitopenia yang ireversibel dan memiliki prognosis yang ireversibel dan memiliki prognosis sangat buruk. Timbulnya tidak tergantung dari besarnya dosis atau lama pengobatan. Insidens berkisar antara 1:24000-50000. Efek samping ini diduga merupakan reaksi idiosinkrasi dan mungkin disebabkan oleh adanya kelainan genetic.
2.      Reaksi saluran cerna
Bermanifestasi dalam bentuk mual, muntah, glositis, diare, dan enterokolitis.
3.      Sindrom gray
Efek samping ini terjadi pada neonates bila regimen dosis kloramfenikol tidak disesuaikan secara akurat. Neonatus mempunyai kapasitas rendah untuk mengglukuronidasi antibiotika dan fungsi ginjalnya belum sempurna. Karena itu, kemampuannya untuk mengekskresi obat menurun, yang menumpuk sampai tingkat yang mengganggu fungsi ribosom mitokondria. Keadaan ini menyebabkan masuknya makanan terganggu, menekan pernapasan, kardiovaskular kolaps, sionasis (karena itu disebut “gray baby”) dan kematian.
4.      Interaksi
Kloramfenikol mampu menghambat fungsi penggabungan oksidase hepatik sehingga dapat meghambat metabolism obat seperti warfann, fenitoin, tolbutamid, dan klorporamid, sehingga meningkatkan konsentrasi dan efeknya.
H.    Kontraindikasi
Wanita hamil,menyusui  dan pasien porfiria
I.       Kombinasi
Dalam dosis teraupetik kloramfenikol menghambat biotransformasi tolbutamid, fenitoin, dikumarol  dan obat lain yang dimetabolisme oleh enzim mikroso hepar. Dengan demikian toksisitas obat-obat ini lebih tinggi bila diberikan bersama kloramfenikol. Pemberian bersama  dengan fenobarbital dan rifampicin akan memperpendek waktu paruh dari kloramfenikol sehiggga kadar obat ini dalam darah menjadi subteraupetik.
J.      Nama dagang
a.       Camicetin [lucas Djaya] kapsul 250 mg, suspensi 125 mg/5 mL
b.      Chloramex [Dumex Alpharma Indonesia] kapsul 250 mg, 500mg, suspense 125 mg/5 mL
c.       Colme [interbat] kapsul 250 mg, sirup 125 mg
d.      Colsancetine [ sanbe] kapsul 250 mg, serbuk inj. 1g/vial, suspenssi 125 mg/5 mL
e.       Coromecytin [coronet] kapsul 250 mg
f.       Emkapeni [mudita karuna] kapsul 250 mg, suspensi 125 mg/ 5 mL
g.      Etagemycetin [errata] suspensi 125 mg/5 mL
h.      Fenicol [armoxindo] kapsul 250 mg, suspense 125mg/5 mL
i.        Hufamycetine [gratia husada] kapsul 250 mg
j.        Ikamicetin [ikapharmindo] kapsul 250 mg
k.      Itramycetin [itrasal] kapsul 250 mg, suspense 125 mg/5 mL
l.        Kalmicetin [kalbe farma] kapsul 250 mg, suspense 125mg/5 mL
m.    Kemicetine [Carlo erba/ Dankos] kapsul 250 mg, serbuk inj. 1g/vial, suspense 125 mg/5 mL
n.      Lanacetine [pertiwi agung] kapsul 250 mg
o.      Paraphenicol [Prafa] kapsul 250 mg
p.      Reconmycetin [Global Multi] kapsul 250 mg
q.      Ribocine [Dexa Medica] kapsul 250 mg
r.        Suprachlor [Meprofaram] kapsul 250 mg
s.       Uniphenicol [Universal] Suspensi 125mg/5 mL
t.        Zenichlor [Zebith] suspense 125mg/5mL

Rabu, 17 November 2010

ALERGI

Alergi adalah respon imun sekunder yang disebabkan oleh adanya senyawa tertentu (disebut alergen) yang dapat menimbulkan kerusakan pada jaringan.Alergen umumnya berupa protein terlarut atau glikoprotein yang berasal dari beberapa jenis sumber alergen a.l: protein dari tepung sari, bisa serangga, spora jamur, cacing, tungau, vaksin dan obat serta makanan (ikan, udang, putih telur, susu dll.). Reaksi alergi tidak terjadi pada semua individu tetapi hanya terjadi pada individu tertentu yang secara genetis alergi terhadap suatu alergen.Reaksi alergi oleh protein lateks dapat terjadi melalui kontak kulit  atau mukosa dan berlangsung cepat yaitu dalam beberapa menit sampai beberapa jam setelah penderita terpapar antigen yang ditandai gejala pembengkakan atau kulit memerah, hidung dan mata berair, kram perut, sulit bernafas, tekanan darah menurun dan pasien mengalami guncangan (anafilaksis)   yang berpotensi menimbulkan kematian.
Alergi merujuk pada reaksi berlebihan oleh sistim imun kita sebagai tanggapan pada kontak badan dengan bahan-bahan asing tertentu.Berlebihan karena bahan-bahan asing ini umumnya dipandang oleh tubuh sebagai sessuatu yang tidak membahayakan dan tidak terjadi tanggapan pada orang-orang yang tidak alergi.Tubuh-tubuh dari orang-orang yang alergi mengenali bahan asing itu dan sebagian dari sistim imun diaktifkan.Bahan-bahan alergi disebut "allergens".Contoh-contoh dari allergens termasuk serbuk sari, tungau, jamur-jamur, dan makanan-makanan.Untuk mengerti bahasa alergi adalah sangat penting untuk mengingat bahwa allergens adalah bahan-bahan yang asing terhadap tubuh dan dapat menyebabkan reaksi alergi pada orang-orang tertentu.
Ketika allergen bersentuhan dengan tubuh, dia menyebabkan sistim imun untuk mengembangkan reaksi alergi pada orang yang alergi terhadapnya. Ketika anda bereaksi secara tidak sesuai pada alergen yang umumnya tidak berbahaya pada orang-orang lain, anda mempunyai reaksi alergi dan dapat dirujuk sebagai alergi atau atopik. Oleh karananya, orang-orang yang cenderung mendapat alergi disebut alergi atau atopik.
Dokter anak austria bernama Clemens Pirquet (1874-1929) pertamakali menggunakan istilah alergi. Ia merujuk pada kedua imunitas yang menguntungkan dan hipersensitifitas yang berbahaya sebagai alergi. Kata alergi berasal dari kata-kata Greek "allos," yang berarti berbeda atau berubah dan "ergos," berarti bekerja atau beraksi. Alergi secara garis besar dirujuk sebagai "reaksi yang berubah".Kata alergi pertama kali digunakan pada tahun 1905 untuk menggambarkan reaksi-reaksi yang merugikan dari anak-anak yang diberikan suntikan-suntikan berulang dari serum kuda untuk melawan infeksi.Tahun berikutnya, istilah alergi diusulkan untuk menerangkan kereaktifan yang berubah yang tidak diharapkan ini.
Fakta-fakta Alergi
·            Diperkirakan sekitar 50 juta penduduk Amerika dipengaruhi oleh kondisi-kondisi alergi.
·            Biaya dari alergi di Amerika adalah lebih dari US$ 10 milyar setiap tahunnya.
·            Alergi rhinitis (alergi hidung) mempengaruhi sekitar 35 juta penduduk Amerika, 6 juta darinya adalah anak-anak.
·            Asma mempengaruhi 15 juta penduduk Amerika, 5 juta darinya adalah anak-anak.
·            Angka dari kasus-kasus asma berlipat ganda selama 20 tahun terakhir.

Penyebab alergi
Terdapat 3 faktor penyebab terjadinya alergi makanan, yaitu faktor genetik, imaturitas usus, pajanan alergi yang kadang memerlukan faktor pencetus.
1. Faktor genetik
     Alergi dapat diturunkan dari orang tua atau kakek/nenek pada penderita .Bila ada     orang tua, keluarga atau kakek/nenek yang menederita alergi kita harus mewaspadai tanda alergi pada anak sejak dini. Bila ada salah satu orang tua yang menderita gejala alergi maka dapat menurunkan resiko pada anak sekitar 17 – 40%,. Bila ke dua orang tua alergi maka resiko pada anak meningkat menjadi 53 -  70%.   Untuk mengetahui resiko alergi pada anak kita harus mengetahui bagaimana gejala alergi pada orang dewasa.Gejala alergi pada orang dewasa juga bisa mengenai semua organ tubuh dan sistem fungsi tubuh.Adapun manifestasi klinik alergi pada dewasa dapat dilihat pada tabel 1.  Bila terdapat 3 gejala atau lebih pada beberapa organ, tanpa diketahui penyebab pasti keluhan tersebut maka kecurigaan mengalami reaksi alergi semakin besar.
2. Imaturitas usus
Secara mekanik integritas mukosa usus dan peristaltik merupakan pelindung masuknya alergen ke dalam tubuh.Secara kimiawi asam lambung dan enzim pencernaan menyebabkan denaturasi allergen.Secra imunologik sIgA pada permukaan mukosa dan limfosit pada lamina propia dapat menangkal allergen masuk ke dalam tubuh.Pada usus imatur system pertahanan tubuh tersebut masih lemah dan gagal berfungsi sehingga memudahkan alergen masuk ke dalam tubuh.
3. Pajanan alergi
Pajanan alergi yang merangsang produksi IgE spesifik sudah dapat terjadi sejak bayi dalam kandungan. Diketahui adanya IgE spesifik pada janin terhadap penisilin, gandum, telur dan susu. Pajanan juga terjadi pada masa bayi.Pemberian ASI eksklusif mengurangi jumlah bayi yang hipersensitif terhadap makanan pada tahun pertama kehidupan. Pemberian PASI meningkatkan angka kejadian alergi
Dalam keadaan normal, sistem kekebalan mempertahankan tubuh melawan zat-zat yang berbahaya seperti bakteri, virus dan racun.Kadang suatu respon kekebalan dipicu oleh suatu zat (alergen) yang biasanya tidak berbahaya dan terjadi alergi.Penyebab dari alergi makanan tidak sepenuhnya dimengerti karena alergi makanan bisa menimbulkan sejumlah gejala yang bervariasi.
Reaksi terhadap makanan bisa bersifat ringan atau fatal, tergantung kepada jenis dan beratnya reaksi.Alergi makanan sering terjadi.Sistem kekebalan melepaskan antibodi dan zat-zat (termasuk histamin) sebagai respon terhadap masuknya makanan tertentu. Gejalanya bisa terlokalisir di lambung dan usus atau bisa menimbulkan gejala di berbagai bagian tubuh, setelah makanan dicerna dan diserap, Gejala biasanya akan timbul dengan segera, jarang sampai lebih dari 2 jam setelah makan makanan tertentu.  Alergi makanan seringkali menyerupai keadaan lainnya, seperti intoleransi makanan (terjadi akibat kekurangan enzim yang diperlukan untuk mencerna makanan tertentu), irritable bowel syndrome, respon terhadap stres emosi atau stres fisik, pencemaran makanan oleh racun (keracunan makanan) dan penyakit lainnya.Alergi makanan berbeda dengan penyakit-penyakit tersebut karena pada alergi makanan dilepaskan antibodi, histamin dan zat-zat lainnya.
Makanan yang seringkali menyebabkan alergi:
- kerang-kerangan (kepitin, lobster, udang)
- kacang-kacangan
- kacang tanah
- buah-buahan (melon, strawberi, nanas dan buah tropis lainnya)
- tomat
- pewarna, penyedap makanan.
Makanan yang sering menyebabkan intoleransi:
- terigu dan gandum lainnya yang mengandung gluten
- protein susu sapi
- hasil olahan jagung.

GEJALA
Gejala-gejala yang mungkin terjadi setelah memakan makanan penyebab alergi:
- tenggorokan terasa gatal
- anafilaksis
- nyeri perut
- perut keroncongan
- diare
- mual
- muntah
- kram perut
- perut kermbung
- rasa gatal di mulut, tenggorokan, mata, kulit atau bagian tubuh lainnya
- kaligata (urtikaria
- angioedema (kaligata di kelopak mata, bibir)
- sakit kepala
- hidung tersumbat
- hidung meler
- sesak nafas
- bengek (mengi)
- kesulitan menelan.

DIAGNOSA
Diagnosis ditegakkan berdasarkan timbulnya gejala-gejala setelah penderita memakan makanan tertentu.
Pada pemeriksaan paru-paru dengan stetoskop bisa terdengar bunyi pernafasan mengi.Peningkatan antibodi atau immunoglobulin (terutaman IgE) semakin memperkuat diagnosis alergi. Untuk menentukan penyebab terjadinya alergi, bisa dilakukan pemeriksaan berikut:
§  Penyisihan makanan (makanan yang dicurigai disingkirkan sampai gejalanya menghilang, setelah itu makanan tersebut kembali diberikan kepada penderita untuk melihat apakah terjadi reaksi alergi)
§  Diet provokasi makanan
§  Tes kulit untuk alergi. 
PENGOBATAN
Pengobatannya bervariasi, tergantung kepada jenis dan beratnya gejala.
Tujuan pengobatan adalah mengurangi gejala dan menghindari reaksi alergi di masa yang akan datang.  Gejala yang ringan atau terlokalisir mungkin tidak memerlukan pengobatan khusus. Gejala akan menghilang beberapa saat kemudian.
Antihistamin bisa meringankan berbagai gejala.Untuk gejala yang berat, bisa diberikan kortikosteroid (misalnya
prednison) dan epinefrin (adrenalin).
PENCEGAHAN
Cara terbaik untuk mencegah terjadinya reaksi alergi di masa yang akan datang adalah dengan menghindari makanan penyebab alergi.

Mengenai Saya

Foto saya
Makassar, Indonesia
tiga benda yg identik dengan z... baju lab__ tas ransel__ kaca mata__